Peran Guru dalam Kurikulum Merdeka di Tingkat Sekolah Dasar
Kurikulum Merdeka adalah inisiatif transformasional yang diperkenalkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia untuk menciptakan pendidikan yang lebih fleksibel, adaptif, dan berpusat pada siswa. Di tingkat Sekolah Dasar, peran guru mengalami perubahan signifikan dari sekadar penyampai informasi menjadi fasilitator pembelajaran. Artikel ini akan membahas bagaimana Kurikulum Merdeka mengubah peran guru, pengembangan profesional yang dibutuhkan, strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa, serta contoh pelatihan dan pendampingan guru dalam implementasi Kurikulum Merdeka.
Mengubah Peran Guru dari "Penyampai Informasi" menjadi "Fasilitator Pembelajaran"
Kurikulum Merdeka mengubah peran guru dengan beberapa cara utama:
- Pendekatan Berpusat pada Siswa: Guru tidak lagi hanya memberikan materi secara satu arah, tetapi lebih banyak berperan dalam memfasilitasi diskusi, memberikan bimbingan, dan mendukung siswa dalam eksplorasi mandiri. Guru menciptakan lingkungan belajar yang terintegrasi, di mana siswa aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
- Kolaborasi dengan Siswa dan Orang Tua: Guru berkolaborasi dengan siswa dan orang tua dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran lebih efektif. Ini termasuk memfasilitasi pengembangan karakter siswa melalui proyek-proyek yang relevan dengan kehidupan mereka.
- Penilaian Otentik: Guru melakukan penilaian berbasis kompetensi yang lebih holistik, mencakup sikap, keterampilan, kreativitas, dan kemandirian siswa.
Pengembangan Profesional Guru
Untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka, pengembangan profesional guru sangat penting. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah:
- Pelatihan Berkelanjutan: Guru memerlukan pelatihan berkelanjutan untuk memahami dan mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dengan efektif. Pelatihan ini mencakup penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, serta pengembangan keterampilan pedagogis yang kuat.
- Penggunaan Teknologi: Guru perlu mengembangkan keterampilan dalam menggunakan teknologi digital, seperti platform pembelajaran online dan aplikasi kolaboratif, untuk mendukung proses pembelajaran.
- Pengembangan Kompetensi Pedagogis: Guru harus mengembangkan kompetensi pedagogis yang kuat untuk menerapkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan melakukan penilaian otentik.
Strategi Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa
Beberapa strategi yang dapat diterapkan oleh guru untuk menciptakan pembelajaran yang berpusat pada siswa antara lain:
- Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL): Guru menerapkan pembelajaran berbasis proyek yang mendorong siswa untuk bekerja sama, berpikir kritis, dan memecahkan masalah. Contohnya, di MAN 1 Sumbawa Barat, guru menggunakan proyek kolaboratif yang melibatkan siswa, orang tua, dan masyarakat.
- Diskusi dan Presentasi: Guru menggunakan metode seperti diskusi dan presentasi untuk mendorong partisipasi aktif siswa. Ini membantu siswa mengembangkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi.
- Penggunaan Teknologi Digital: Guru memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Misalnya, guru di MAN 1 Sumbawa Barat menggunakan platform pembelajaran online dan media audiovisual.
Contoh Pelatihan dan Pendampingan Guru
Beberapa contoh pelatihan dan pendampingan guru dalam implementasi Kurikulum Merdeka antara lain:
- Pelatihan Blended Learning: Di SMP Negeri 3 Kolaka, guru mendapatkan pelatihan dalam menerapkan model pembelajaran berbasis blended learning, yang berhasil meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru.
- Pendampingan Flipped Classroom: Guru di SMP Negeri 6 Kerinci mendapatkan pendampingan dalam menerapkan model flipped classroom, yang terbukti meningkatkan aktivitas belajar siswa.
- Implementasi Teaching Factory: Di SMK di Kota Makassar, guru dan siswa mendapatkan pelatihan dan pendampingan dalam menerapkan teaching factory, yang meningkatkan kualitas pendidikan dan persiapan siswa untuk dunia kerja.
Dengan pendekatan ini, Kurikulum Merdeka diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih adaptif, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan potensi siswa secara holistik. Peran guru sebagai fasilitator pembelajaran menjadi kunci dalam mewujudkan tujuan Kurikulum Merdeka, yaitu menciptakan pendidikan yang lebih relevan dan responsif terhadap kebutuhan dunia modern.
Sumber :
Rosa, E., Destian, R., Agustian, A., & Wahyudin. (2024). Inovasi Model dan Strategi Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Merdeka. Journal of Education Research, 5(3), 2608-2617.
Maulida, N., Purba, H. C., Sarumpaet, J. T. M., Sibarani, C. G. G. T., & Ahsan, J. (2024). Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar: Tinjauan Pustaka tentang Peran dan Problematika Guru serta Pengaruhnya terhadap Peningkatan Kualitas Peserta Didik. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(2), 17420-17431.
Haq, A. Q., & Fitriani, M. I. (2024). Lingkungan Belajar Terintegrasi Melalui Kurikulum Merdeka dalam Meningkatkan Kinerja Guru. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 9(3), 1775-1784.
